Latest Music :
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Hikmah Puasa Ramadhan

Hikmah Puasa Ramadhan


Segala puji bagai Allah. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi terakhir, Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabat dan siapa saja yang mengambil petunjuknya hingga hari kiamat.
Adapun selanjutnya:

Sesungguhnya apa yang Allah syariatkan kepada hamba-Nya dari berbagai ibadah memiliki hikmah yang sempurna dan paripurna. Karena Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan makhluk, syariat dan balasan-balasannya. Satu dari ibadah itu adalah puasa, yang memiliki hikmah besar, di antaranya:
1.   Puasa merupakan ibadah untuk Allah. Seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhan-nya dengan meninggalkan apa-apa yang dicintai jiwa dan nafsunya baik makanan, minuman maupun hubungan kelamin. Dari situ nampak ketulusan iman seorang hamba, kesempurnaan penghambaannya, kecintaannya kepada Tuhan-nya dan harapnya kepada pahala-Tuhan-nya. Karena seseorang tidaklah meninggalkan apa-apa yang dicintainya kecuali untuk sesuatu yang lebih agung. Karena itu saudaraku Muslim, hendaknya engkau termasuk mereka yang berpuasa demi mengharap apa-apa yang ada di sisi Allah dan menghinakan diri kepada-Nya dengan ibadah ini.
2.   Di antara hikmah puasa: seorang hamba memperoleh ketakwaan, sebagaimana firman Allah -ta'âla-:
قال تعالى: ﴿$yg•ƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$# $yJx. |=ÏGä. ’n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ ﴾  
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ini didapatkan bila sesuai dengan puasa syar’i yang meninggalkan berbagai pembatal puasa maupun perkataan dan perbuatan zûr (keji). Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
))مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ((
"Siapa yang tidak meninggalkan perkataan keji, perbuatannya dan juga kebodohan, Allah tidak butuh kepada makan dan minum yang ditinggalkannya."
[HR. Al-Bukhari]
Berupayalah untuk berpuasa yang benar, bersih dari ketercemaran dan kerancuan.
3.   Orang yang puasa menyibukkan hatinya dengan pikir dan zikir. Karena bila menuruti hawa nafsunya akan membuatnya lalai bahkan bisa mengeraskan hati. Karena itu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mengarahkan untuk meringankan makan dan minum. Al-Miqdam Ibn Ma’ad -radiallahu'anhu- berkata, aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
))مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ((
"Tidak ada wadah yang diisi penuh oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu suapan yang dapat menegakkan punggunya, jika dia tidak mampu, maka 1/3 untuk makanannya, 1/3 untuk minumnya dan 1/3 untuk nafasnya. "
[HR. Ibnu Majah. Hadits sahih]
4.   Orang kaya sadar akan nikmat Allah yang berlimpah kepadanya dan itu tidak diperoleh oleh mereka yang fakir, baik makanan, minuman dan menikah. Sehingga dia pun memuji dan bersyukur kepada Allah, ingat kepada saudaranya yang fakir dan bersedekah kepadanya, memberinya sesuatu dari harta Allah yang telah diberikan kepadanya. Wahai orang-orang kaya, bersedekahlah kepada orang-orang fakir pada bulan Ramadhan mulia ini, memberilah seperti pemberian orang yang tidak takut miskin. Bedermalah dengan harta dan kebaikan kepada saudara-saudaramu yang membutuhkan, jadilah orang yang mensyukuri nikmat Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- telah bersabda:
((إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا))
“Allah sungguh ridha pada hamba yang memakan makanan lalu memuji-Nya atas makan itu atau meminum minuman lalu memuji-Nya atas minuman itu.”
[HR. Muslim]
5.   Puasa menyempitkan pembuluh darah sebagai dampak dari lapar dan haus, sehingga menyempit juga ruang setan pada tubuh. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
(( إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ))
“Sesungguhnya setan masuk dalam tubuh manusia melalui pembuluh darah.”
[HR. Al-Bukhari]
Puasa juga menghancurkan dorongan hawa nafsu. Karena itu wahai para pemuda dan semisal mereka, jadikan Hadits Nabi berikut ini sebagai menolongmu dan amalkanlah; Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
(( يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ))
"Wahai para pemuda, siapa yang sanggup dari kalian al-ba'ah (memberi nafkah batin) hendaknya menikah, karena ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Jika tidak sanggup, hendaknya berpuasa. Sesungguhnya itu dapat meredam nafsu." [HR. Syakhân]



1.
Hikmah Puasa Ramadhan.pdfHikmah Puasa Ramadhan
262.6 KB
Download Materi: Hikmah Puasa Ramadhan.pdf
2.
Hikmah Puasa Ramadhan.docHikmah Puasa Ramadhan
1.9 MB
Download Materi: Hikmah Puasa Ramadhan.doc


Keutamaan Puasa


Keutamaan Puasa

                Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Santun, Pemberi karunia, Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Mulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, al-Awwal,Yang telah ada sebelum segala sesuatu, al-Akhir, Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, azh-Zhahir Yang tidak ada sesuatu pun di atas -Nya,  al-Bathin Yang tidak ada sesuatupun yang menghalangi -Nya, Yang pengetahuan -Nya meliputi  apa yang akan terjadi dan yang telah terjadi, yang memuliakan dan menghinakan, melakukan apa yang Dia kehendaki dengan hikmah -Nya, setiap hari Dia dalam urusan, menguatkan bumi dengan gunung-gunung di sisi-sisinya, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengirim awan yang berat dengan membawa air yang menghidupkan dan memutuskan kebinasaan kepada semua penghuninya, untuk membalas orang yang berbuat jahat dengan amal perbuatannya dan membalas orang-orang yang baik dengan kebaikan.
                Saya memuji -Nya atas sifat kesempurnaan yang indah, bersyukur atas segala nikmat -Nya yang melimpah dan dengan syukur yang menambah pemberian dan karunia. Dan Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah subhanahu wa ta’ala, tiada sekutu bagi -Nya, Raja Yang Maha Perkasa. Dan Saya bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi waa sallam adalah hamba dan rasul -Nya yang diutus kepada bangsa manusia dan jin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi rahmat kepadanya, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan selama waktu masih berjalan.
                Saudaraku, ketahuilah bahwa puasa adalah ibadah yang paling utama, banyak sekali riwayat yang menunjukkan keutamaannya dan berita tentang keutamaannya tersebar di antara manusia.
                Di antara keutamaan puasa adalah sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkannya kepada semua umat manusia:
قال الله تعالى:﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣ ﴾ [البقرة: 183] 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. al-Baqarah:183)

Kalau bukan karena pahalanya yang sangat besar niscaya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkannya kepada semua umat manusia.
                Dan di antara keutamaan puasa di bulan Ramadhan adalah: bahwa ia merupakan sebab ampunan dan penebus segala kesalahan. Dalam Shahihain, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من صام رمضان إيمانا واحتسابا غُفِر له ما تقدم من ذنبه ) [متفق عليه]
“Barangsiapa yang puasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni dosanya yang terdahulu.” ([1])
Maksudnya karena percaya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ridha dengan kewajiban puasa yang ditentukan kepadanya, dan karena mengharapkan pahala-Nya. Tidak benci terhadap kewajiban -Nya dan tidak pula meragukan pahalanya. Maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni  dosanya yang terdahulu.
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة مكَفِّرات لما بينهن إذا اجْتُنِبَت الكبائر) [رواه مسلم]
"Shalat lima waktu, shalat Jum'at hingga Jum'at berikutnya merupakan penebus dosa yang ada di antaranya, apabila dijauhi dosa-dosa besar." ([2])
Dan di antara keutamaan puasa: bahwa pahalanya tidak terkait bilangan tertentu, tetapi orang yang puasa diberikan pahalanya akan dibalas langsung oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (قال الله تعالى: كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به والصيام جُنَّة فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يصخب فإن سابَّه أحد أو قاتله فليقل: إني صائم والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح بفطره وإذا لقي ربه فرح بصومه ) [متفق عليه]
 'Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman: setiap amal ibadah anak cucu Adam adalah untuknya kecuali puasa, maka ia adalah untuk -Ku dan Saya yang membalasnya. Puasa merupakan perisai. Apabila salah seorang darimu berpuasa maka janganlah ia mengucap kata-kata kotor dan membuat gaduh. Maka jika seseorang mencelanya atau memusuhinya maka hendaklah ia berkata: sesungguhnya Saya puasa. Demi diri Muhammad yang berada di tangan -Nya, sungguh bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla dari pada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: apabila ia berbuka, ia bahagia dengan berbukanya dan apabila ia bertemu Rabb-nya ia senang dengan puasanya." ([3])   Dan dalam riwayat Muslim:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (كل عمل ابن آدم له يضاعَف الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال الله تعالى: إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به يَدَعُ شهوته وطعامه من أجلي.) [رواه الترمذي]
"Setiap amal perbuatan manusia adalah untuk         -Nya, kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Firman Allah Shubhanahu wa ta’alla: kecuali puasa maka ia untuk -Ku dan Saya yang membalasnya, dia meninggalkan syahwat dan makanan karena Saya." [4]
                Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa dari berbagai sisi:
Pertama: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menentukan puasa untuk diri -Nya dari semua amal ibadah. Hal itu dikarenakan begitu muliakannya di sisi -Nya dan nampak keikhlasan karena -Nya karena ia adalah rahasia di antara hamba dan Rabb-nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Maka sesungguhnya orang yang puasa berada di tempat yang sunyi, bisa memakan yang diinginkanya namun ia tidak melakukannya. Karena ia mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang melihatnya saat ia sendirian. Dan Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan hal itu, maka ia meninggalkannya karena takut terhadap siksa Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharapkan pahalanya, karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala membalas keikhlasan ini dan menentukan puasa hanya untuk -Nya di samping ibadah lainnya. Karena inilah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi):
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يدع شهوته وطعامه من أجلي ) [رواه مسلم والنسائي]
Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Saya ( ([5]
Faedah keutamaan ini nampak jelas di hari kiamat, seperti yang dikatakan Sufyan bin Uyainah rahimahullah:  Apabila terjadi hari kiamat, Allah subhanahu wa ta’ala menghisab hamba -Nya dan membayarkan semua kezalimannya yang diambil dari amal ibadahnya, hingga bila tidak tersisa lagi kecuali puasa, Allah subhanahu wa ta’ala menanggung kezaliman yang masih tersisa dan memasukkanya ke surga dengan puasa.
Kedua: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman dalam puasa: (Dan Saya membalas dengannya) maka Allah subhanahu wa ta’ala menyandarkan balasan kepada Zat -Nya Yang Mulia, karena amal ibadah dilipat gandakan pahalanya dengan bilangan, satu kebaikan dengan sepuluh kali lipat hingga mencapai tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang sangat banyak. Adapun puasa, Allah subhanahu wa ta’ala menyandarkan balasannya  kepada diri -Nya tanpa terbilang, dan Dia adalah yang paling pemurah dari semua yang pemurah. Dan pemberian itu menurut kadar dan kehendak -Nya, maka pahala orang yang puasa sangat besar tanpa terhitung. Puasa adalah sabar karena taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sabar meninggalkan yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala, sabar terhadap ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyakitkan berupa lapar, haus, lemah badan dan jiwa. Tergabung padanya tiga jenis sabar dan terealisasi bahwa orang yang puasa termasuk orang-orang yang sabar. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالى:﴿ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠  ﴾ [الزمر: 10] 
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. az-Zumar:10)

Ketiga: Puasa merupakan perisai, maksudnya pemelihara dan penutup orang yang puasa dari perbuatan sia-sia. Karena itulah beliau bersabda: "Apabila salah seorang darimu berpuasa maka janganlah ia mengucap kata-kata kotor dan membuat gaduh. Dan menjaganya pula dari api neraka. Karena itulah imam Ahmad meriwayatkan dengan isnad yang hasan, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لصيام جنة يَسْتَجِنُّ بها العبد من النار   [رواه أحمد]
 "Puasa adalah perisai yang hamba menjadikannya sebagai tameng dari api neraka." ([6])
Keempat: Sesungguhnya bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dari pada aroma minyak kesturi, karena ia berasal dari bekas puasa, maka ia lebih wangi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Ini menunjukkan besarnya pahala puasa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala,  sehingga sesuatu yang tidak disukai di sisi manusia menjadi dicintai dan wangi karena muncul dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan puasa.
Kelima: Sesungguhnya bagi yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan bahagia saat bertemu Rabb-nya. Adapun kebahagiaan saat berbuka, maka ia merasa bahagia dengan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya berupa melaksanakan ibadah puasa yang merupakan ibadah paling utama, berapa banyak manusia yang tidak bisa melaksanakannya. Dan ia bahagia dengan makanan, minuman dan menikah yang dibolehkan Allah subhanahu wa ta’ala, yang sebelumnya diharamkan kepadanya saat puasa. Adapun kebahagiaannya saat bertemu Rabb-nya maka ia merasa bahagia dengan puasanya saat ia memperoleh pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala secara sempurna saat ia sangat membutuhkannya, saat dikatakan: di manakah orang-orang yang puasa supaya mereka masuk surga dari pintu Rayyan yang tidak ada orang yang memasukinya selain mereka.
                Di dalam hadits ini merupakan bimbingan bagi yang puasa, apabila seseorang mencelanya atau memusuhinya, agar ia tidak membalasnya dengan perbuatan serupa, agar tidak bertambah celaan dan permusuhan, dan supaya ia tidak lemah di hadapannya dengan berdiam diri. Tetapi ia mengabarkanya bahwa ia puasa sebagai isyarat bahwa ia tidak akan membalas dengan perbuatan serupa karena menghormati puasa, bukan karena tidak mampu membalas, saat itu terhentilah celaan dan permusuhan.
قال الله تعالى:﴿ وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥ ﴾ [فصلت: 35-34] 
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia* Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Fushshilat:34-35)

Di antara keutamaan puasa: Ia memberi syafaat bagi yang mengerjakannya di hari kiamat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام: أي رب منعتُه الطعام والشهوة فَشَفِّعْنِي فيه ويقول القرآن: منعتُه النوم بالليل فَشَفِّعْنِي فيه قال: فيشفعان) [رواه أحمد والطبراني]
“Puasa dan al-Qur`an memberi syafaat bagi hamba di hari kiamat. Puasa berkata:  Wahai Rabb, Saya menghalanginya makan dan syahwat, maka berilah syafaatku padanya. Dan al-Qur`an berkata: 'Saya menghalanginya tidur di malam hari maka berilah syafaatku padanya.' Beliau bersabda: maka keduanya memberi syafaat."HR. Ahmad. ([7])
                Saudaraku keutamaan puasa tidak akan diperoleh kecuali yang berpuasa melaksanakan adab-adabnya, maka bersungguh-sungguhlah menjalankan puasamu dan menjaga batas-batasnya. Bertaubatlah kepada Rabb-mu akan kekuranganmu dalam hal itu.
Ya Allah Shubhanahu wa taálla, jagalah puasa kami dan jadilah ia memberi syafaat kepada kami, ampunilah kami dan kedua orang tua kami serta semua kaum muslimin. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, keluarga dan para sahabatny


([1])  HR. Al-Bukhari 38, Muslim 760, at-Tirmidzi 683, Ahmad 2/241.
([2])  HR. Muslim 233, at-Tirmidzi 214, Ibnu Majah 1086 dan Ahmad 2/400.
([3]) HR. Al-Bukhari 1805, Muslim 1151, at-Tirmidzi 764, an-Nasa`i 2216, Ibnu Majah 1638 dan Ahmad 2/273.
([4]) HR. At-Tirmidzi 764 dan Ibnu Majah 1638
([5])  HR. Muslim 1151, an-Nasa`i 2215, Ibnu Majah `638, Malik 690, dan ad-Darimi 1770.
([6]) HR. Ahmad 3/396.
([7] HR. Ahmad 2/174, ath-Thabrani dan al-Hakim, ia berkata : Shahih menurut syarat Muslim. Al-Mundziri berkata : semua perawinya dijadikan hujjah dalam shahih.

1.
Keutamaan Ibadah Puasa.pdfKeutamaan Ibadah Puasa
243.1 KB
Download Materi: Keutamaan Ibadah Puasa.pdf
2.
Keutamaan Ibadah Puasa.docKeutamaan Ibadah Puasa
2.3 MB
Download Materi: Keutamaan Ibadah Puasa.doc

Kliping Agama Islam 2


Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yg memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dgn nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yg bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yg bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adl mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9).
Menurut Hasan Langgulung yg dikutip oleh Djamaluddin (1999) Pendidikan Islam ialah pendidikan yg memiliki empat macam fungsi yaitu :
  • Menyiapkan generasi muda utk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yg akan datang. Peranan ini berkaitan erat dgn kelanjutan hidup masyarakat sendiri.
  • Memindahkan ilmu pengetahuan yg bersangkutan dgn peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
  • Memindahkan nilai-nilai yg bertujuan utk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yg menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.
  • Mendidik anak agar beramal di dunia ini utk memetik hasil di akhirat.
Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
  • Untuk membentuk akhlakul karimah.
  • Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental.
  • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.
 Pendidikan Agam Islam

Pembunuhan Dalam Hukum Islam


Pembunuhan adalah suatu tindakan untuk menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang melanggar hukum, maupun yang tidak melawan hukum.
Pembunuhan biasanya dilatarbelakangi oleh bermacam-macam motif, misalnya politik, kecemburuan, dendam, membela diri, dan sebagainya.
Pembunuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Yang paling umum adalah dengan menggunakan senjata api atau senjata tajam. Pembunuhan dapat juga dapat dilakukan dengan menggunakan bahan peledak, seperti bom.

Pembunuhan ada 3 macam, yaitu :
  • Membunuh dengan sengaja
  • Membunuh seperti di sengaja
  • Membunuh tersalah

Dasar hukum larangan membunuh

membunuh adalah perbuatan yang di larang dalam Islam, karena islam menghormati dan melindungi hak hidup setiap manusia. Allah berfirman dalam surah al isra :33 yang artinya
"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang di haramkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu alasan yang benar"
Dalam ajaran agama Katolik, larangan untuk membunuh ditemukan dalam Sepuluh Perintah Allah kelima, "Jangan Membunuh". Dalam Gereja Katolik, implikasinya luas, termasuk juga larangan untuk membunuh kandungan aborsi, euthanasia, dan bunuh diri, terkecuali pembunuhan karena membela diri terhadap serangan orang lain. Dalam konteks yang lebih luas, perintah "jangan membunuh" ini diserukan untuk menghindari perang selama dimungkinkan, untuk mencegah pertumpahan darah yang besar.[1]

Sulaiman

Sulaiman (bahasa Arab:سليمان; bahasa Ibrani: שְׁלֹמֹה; bahasa Ibrani Standar: Šəlomo; bahasa Ibrani Tiberia: Šəlōmōh, bermakna "damai") (sekitar 975-935 SM)[1] merupakan seorang raja Israel, dan anak Raja Daud. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran. Sejak kecil ia telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya.[rujukan?] Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM.[rujukan?] Ia wafat di Rahbaam, Baitul Maqdis-Palestina. Sulaiman diagungkan sebagai salah satu dari empat raja yang berhasil menaklukkan sebagian besar bumi, diantaranya adalah Dzul Qarnain, Bukhtanasar dan Namrudz.[2]

Raja segala makhluk

Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan rasul. Setelah Sulaiman cukup umur dan ayahandanya wafat, Sulaiman diangkat menjadi raja di kerajaan Israil. Ia berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas binatang dan makhluk halus seperti jin dan lain-lain. Baginda dapat memahami bahasa semua binatang
Istana Nabi Sulaiman sangat indah. Dibangun dengan gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan sebagainya.

Wafatnya Sulaiman

Kisah Sulaiman dan tentaranya yang terdiri daripada manusia, hewan dan jin dalam menjalankan dakwah Allah terhadap Ratu Balqis. Kematian beliau berlainan dengan manusia biasa. Nabi Sulaiman wafat dalam keadaan duduk di kursi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memperhatikan jin yang bekerja.
Firman Allah: "Tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka setelah kematiannya itu melainkan rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, nyatalah bagi jin itu bahawa sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam seksa yang menghinakan."

Nuh

Nuh (Ibrani: נוֹחַ, Nūḥ; Tiberias: נֹחַ; Arab: نوح) (sekitar 3993-3043 SM) adalah seorang rasul yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Quran. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern. Namanya disebutkan sebanyak 58 kali dalam 48 ayat dalam 9 buku Alkitab Terjemahan Baru[5] dan 43 kali dalam Al-Quran.

Menurut Al-Qur'an, ia memiliki 4 anak laki-laki yaitu Kanʻān, Sem, Ham, dan Yafet. Namun Alkitab hanya mencatat, ia memiliki 3 anak laki-laki Sem, Ham, dan Yafet. Kitab Kejadian mencatat, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut. Setelah air bah reda, keluarga Nuh kembali me-repopulasi bumi.
Nuh adalah Rasul Allah yang pertama yang diutus ke atas bumi ini, sedangkan Adam, Syits dan Idris yang diutus sebelumnya hanyalah bertaraf Nabi saja, bukan sebagai Rasul karena mereka tidak memiliki umat atau kaum.

Post


Ramalan

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MOZZA TASK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Free Blogger Template