Latest Music :
Home » » Garis Wallace Garis Weber

Garis Wallace Garis Weber

Kamis, 11 Oktober 2012 | 0 komentar

Garis Wallace Garis Weber
 
Garis Wallace adalah sebuah sempadan hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis ini dinamakan atas Alfred Russel Wallace, yang menyadari perbedaan yang jelas pada saat dia berkunjung ke Hindia Timur pada abad ke-19. Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo dan Sulawesi; dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Adanya garis ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia lalu ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna. Garis ini lalu dinamakan “Wallace-Weber”.

Dalam membahas ilmu geografi tumbuhan dan hewan, kita tidak terlepas dari seorang ahli ilmualam dari Inggris, yaitu Alfred Russel Wallace (1823-1913). Dia mempelopori penyelidikansecara modern tentang Geografi hewan terlepas dari teori Darwin. Dia mendalilkan suatu gariskhayal sebagai pemisah antara dunia hewan Australis dan Asiatis. Alfred Russel Wallacemengadakan penelitian mengenai penyebaran hewan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hewan di Indonesia bagian Barat dengan hewan di Indonesia bagianTimur. Batasnya di mulai dari Selat Lombok sampai ke Selat Makasar. Oleh sebab itu garis batasnya dinamakan garis Wallace. Batas ini bersamaan pula dengan batas penyebaran binatangdan tumbuhan dari Asia ke Indonesia.

Kawasan Wallacea: meliputi wilayah Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Sumba, Sumbawa,Lombok dan Timor. Memiliki hewan-hewan khas (terutama di Pulau Sulawesi) tidak samadengan hewan oriental dan hewan Australia, misal: Anoa, burung Mako, kera hitam. 

Di samping itu seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama Weber, berdasarkan penelitiannya tentang penyebaran fauna di Indonesia, menetapkan batas penyebaran hewan dariAustralia ke Indonesia bagian Timur. Garis batas tersebut dinamakan garis Weber. 
      


Wilayah Penyebaran Biotik di Dunia

1. Wilayah Ethiopian
 Wilayah persebarannya meliputi benua Afrika, dari sebelah Selatan Gurun Sahara, Madagaskar dan Selatan Saudi Arabia. Hewan yang khas didaerah ini adalah: gajah Afrika, badak Afrika,gorila, baboon, simpanse, jerapah, harimau. Mamalia endemik di wilayah ini adalah Kuda Nilyang hanya terdapat di Sungai Nil, Mesir. 

2. Wilayah Paleartik 
 Wilayah persebarannya sangat luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Uni Sovyet, daerahdekat Kutub Utara sampai Pegunungan Himalaya, Kepulauan Inggris di Eropa Barat sampaiJepang, Selat Bering di pantai Pasifik, dan benua Afrika paling Utara. Kondisi lingkunganwilayah ini bervariasi, baik perbedaan suhu, curah hujan maupun kondisi permukaan tanahnya,menyebabkan jenis faunanya juga bervariasi. Beberapa jenis fauna Paleartik yang tetap bertahandi lingkungan aslinya yaitu Panda di Cina, unta di Afrika Utara, binatang kutub seperti rusaKutub, kucing Kutub, dan beruang Kutub. Binatang-binatang yang berasal dari wilayah ini
 
antara lain kelinci, sejenis tikus, berbagai spesies anjing, kelelawar. Bajing, dan kijang telahmenyebar ke wilayah lainnya. 

3. Wilayah Nearktik 
 Wilayah persebarannya meliputi kawasan Amerika Serikat, Amerika Utara dekat Kutub Utara,dan Greenland. Hewan khas daerah ini adalah ayam kalkun liar, tikus berkantung di GurunPasifik Timur, bison, muskox, caribau, domba gunung. 

4. Wilayah Neotropikal
 Wilayah persebarannya meliputi Amerika Tengah, Amerika .Selatan, dan sebagian besar Meksiko. Iklim di wilayah ini sebagian besar beriklim tropik dan bagian Selatan beriklimsedang. Hewan endemiknya adalah ikan Piranha dan Belut listrik di Sungai Amazone, Lama(sejenis unta) di padang pasir Atacama (Peru), tapir, dan kera hidung merah. Wilayah Neotropikal sangat terkenal sebagai wilayah fauna Vertebrata karena jenisnya yang sangat beranekaragam dan spesifik, seperti beberapa spesies monyet, trenggiling, beberapa jenis reptilseperti buaya, ular, kadal, beberapa spesies burung, dan ada sejenis kelelawar penghisap darah. 

5. Wilayah Oriental
 Untuk daerah oriental, daerah penyebaran biotiknya meliputi daerah Asia bagian selatan pegunungan Himalaya, India, Sri Langka, Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa, Kalirnantan,Sulawesi, dan Filipina. Fauna yang terdapat di daerah penyebaran ini misalnya: Siamang, Orangutan, Gajah, Badak, burung Merak. Fauna Indonesia yang masuk wilayah ini hanya di Indonesia bagian Barat. Hewan yang khaswilayah ini adalah harimau, orang utan, gibbon, rusa, banteng, dan badak bercula satu. Hewanlainnya adalah badak bercula dua, gajah, beruang, antilop berbagai jenis reptil, dan ikan. Adanya jenis hewan yang hampir sama dengan wilayah Ethiopian antara lain kucing, anjing, monyet,gajah, badak, dan harimau, menunjukkan bahwa Asia Selatan dan Asia Tenggara pernah menjadisatu daratan dengan Afrika. Fauna ini tersebar di bagian Barat yang meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali. 


6. Wilayah Australian
Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia Baru, Irian, Maluku, pulau-pulau disekitarnya, dan kepulauan di Samudera Pasifik. Beberapa hewan khas wilayah ini adalah
kanguru, kiwi, koala, cocor bebek (sejenis mamalia bertelur). Terdapat beberapa jenis burungyang khas wilayah ini seperti burung cendrawasih, burung kasuari, burung kakaktua, dan betet.Kelompok reptil antara lain buaya, kura-kura, ular pitoon. Fauna yang terdapat di wilayah ini terdapat di Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya. Binatang- binatangnya mempunyai kesamaan dengan binatang-binatang di benua Australia. Daerah ini jugadisebut fauna dataran Sahul., contohnya antara lain: kanguru, kasuari, kuskus, burungcendrawasih dan berbagai jenis burung lainnya, reptil, dan amphibi. 

Garis Wallace dan Weber di Indonesia

Hewan-hewan yang berada di Oriental dan Australis batas pertemuannya dari kedua jenishewan tersebut berada di kepulauanIndonesia. Begitu juga dengan jenis-jenis tumbuhan yangdikemukakan oleh Weber. Batas masing-masing jenis hewan dan tumbuhan yang dikemukakanoleh kedua ahli tersebut dibuat garis khayal yang memisahkan golongan hewan dan tumbuhanAsiatis, golongan hewan dan tumbuhan peralihan antara Asiatis dan Australis, dan golonganhewan dan tumbuhan Australis. Oleh karena itu, Kepulauan Indonesia dibagi menjadi tiga golongan hewan dan tumbuhan berdasarkan jenis persebarannya. 

Asiatis/Oriental

Daerah ini juga disebut daerah fauna dataran Sunda. Fauna Asiatis antara lain adalah:gajah India di Sumatera, harimau terdapat di Jawa, Sumatera, Bali, badak bercula dua diSumatera dan Kalimantan, badak bercula satu di Jawa, orang utan di Sumatera danKalimantan, Kancil di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan beruang madu di Sumateradan Kalimantan. Hal yang menarik adalah di Kalimantan tidak terdapat harimau dan diSulawesi terdapat binatang Asiatis seperti monyet, musang, anoa, dan rusa. Di NusaTenggara terdapat sejenis cecak terbang yang termasuk binatang Asia.
          Faunaendemik 
di daerah ini adalah, badak bercula satu di Ujung kulon Jawa Barat, Beo Niasdi Kabupaten Nias, Bekantan/Kera Belanda dan Orang Utan di Kalimantan. 
Flora di dataran Sunda disebut juga flora Asiatis karena ciri-cirinya mirip dengan ciri-ciri tumbuhan Asia. Contoh-contohnya yaitu: tumbuhan jenis meranti-merantian, berbagai jenis rotan dan berbagai jenis nangka. Hutan Hujan Tropis terdapat di bagianTengah dan Barat pulau Sumatera dan sebagian besar wilayah Kalimantan. Hal ini dikarenakan sejarah geologi dulu bahwa dataran sunda bergabung dengan benua Asia.
           
Di dataran Sunda banyak dijumpai tumbuhan endemic, yaitu tumbuhan yang hanya terdapat pada tempat tertentu dengan batas wilayah yang relat if sempit dantidak terdapat di wilayah lain Tumbuhan endemic tersebut terdapat di Kalimantan sebanyak 59 jenis dan di Jawa 10 jenis. Misalnya bunga Rafflesia Arnoldii hanya terdapat di perbatasan Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Anggrek Tien Soeharto yang hanyatumbuh di Tapanuli Utara,Sumatera Utara. 

Australis

Fauna yang terdapat di wilayah ini terdapat di Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya.Binatang-binatangnya mempunyai kesamaan dengan binatang-binatang di benuaAustralia. Daerah ini juga disebut fauna dataran Sahul., contohnya antara lain:kanguru, kasuari, kuskus, burung cendrawasih dan berbagai jenis burung lainnya, reptil,dan amphibi.
Flora yang ada di dataran Sahul disebut juga Flora Australis sebab jenis floranya mirip dengan flora di benua Australia. Dataran Sahul yang meliputi Irian Jaya dan pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya memiliki corak hutan Hujan Tropik tipeAustralia Utara, dengan ciri-ciri sangat lebat dan selalu hijau sepanjang tahun. Didalamnya tumbuh beribu-ribu jenis tumbuh-tumbuhan dari yang besar dan tingginya bisa mencapai lebih dari 50 m, berdaun lebat sehingga matahari sukar menembus ke permukaan tanah dan tumbuhan kecil yang hidupnya merambat. Berbagai jenis kayuyang punya nilai ekonomis tinggi tumbuh dengan baik, seperti kayu besi, cemara, ebenhitam, kenari hitam, dan kayu merbau. Di daerah pantai banyak kita jumpai hutanmangrove dan pandan, sedangkan di daerah rawa terdapat sagu untuk bahan makanan.Di daerah pegunungan terdapat tumbuhan Rhododendron yang merupakan tumbuhanendemik daerah ini. 
Daerah Peralihan Fauna peralihan tersebar di Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Daerah faunaPeralihan dibatasi oleh garis Wallace yang membatasi dengan fauna di dataran Sundadan garis Weber yang membatasi dengan fauna di dataran Sahul. Contoh faunanyaantara lain: babi rusa, anoa, kuskus, biawak, katak terbang. Katak terbang ini jugatermasuk fauna Asiatis. Di daerah fauna peralihan juga terdapat fauna endemik seperti:Komodo di P.Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, tapir (kerbau liar), burung Kasuari diPulau Morotai, Obi, Halmahera dan Bacan
Flora yang terdapat di daerah peralihan ini meliputi pulau Sulawesi, Maluku, dan NusaTenggara. Pulau-pulau ini disebut daerah peralihan karena flora di daerah peralihan,mempunyai kemiripan dengan flora yang ada di daerah kering di Maluku, NusaTenggara, Jawa, dan Filipina.
Di kawasan pegunungannya terdapat jenis tumbuhan yangmirip dengan tumbuhan di Kalimantan. Sedangkan di kawasan pantai dan dataranrendahnya mirip dengan tumbuhan di Irian Jaya. Corak vegetasi yang terdapat di daerahPeralihan meliputi: Vegetasi Sabana Tropik di Kepulauan Nusa Tenggara, Hutan pegunungan di Sulawesi dan Hutan Campuran di Maluku. 
Pembagian flora dan fauna di Indonesia tersebut didasarkan pada faktor geologi. Yangsecara geologi pulau-pulau di Indonesia Barat pernah menyatu dengan benua Asia sedangkan pulau-pulau di Indonesia Timur pernah menyatu dengan benua Australia. Oleh karena itutumbuhan dan hewan di benua Asia mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan tumbuhan danhewan di Indonesia Barat. Demikian pula ciri-ciri tumbuhan dan hewan di Indonesia Timur miripdengan tumbuhan dan hewan di benua Australia.

Situs Gunung Padang

Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Penemuan

Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.
Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.
Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.
Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat "kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.
jika dilihat dari atas, gunung padang terlihat sangat persis bentuknya dengan piramida yang ada di mesir. umurnya diperkirakan jauh lebih tua dari pada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi. karena sesungguhnya gunung padang bukanlah gunung melainkan bangunan berbentuk mirip dengan piramida yang telah terkena timbunan debu vulkanik sehingga terlihat seperti gunung yang sudah ditumbuhi pepohonan. didalam gunung padang dipercaya memiliki ruang didalamnya yang kini telah tertimbun tanah. dalam situs gunung padang ditemukan alat musik yang berupa batu persegi panjang yang bergelombang pada bagian atasnya, jika setiap gelombang dipukul, maka akan mengeluarkan bunyi yang berbeda antar gelombang satu dengan yang lain. dan alat musik dari batu itu dapat dimainkan dengan benar. ada beberapa orang yang percaya kalau situs gunung padang memiliki keterkaitan dengan situs piramida yang ada di mesir, dikarenakan bentuknya yang mirip dengan ruang didalamnya dan karena umurnya yang jauh lebih tua dibandingkan piramida yang ada di mesir. saaat ini situs padang masih berada dalam masa pengkajian lebih lanjud. menelusuri misteri situs Gunung Padang. Usia "piramida" Gunung Padang diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi--bandingkan dengan piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM. Namun pembuktian belum maksimal, dan ini menyebabkan pakar geologi masih ragu terhadap "piramida" itu. Terlalu dini untuk diumumkan.
Gunung Padang jadi buah bibir setelah Tim Katastropik Purba meneliti patahan gempa Cimandiri, sekitar empat kilometer ke arah utara dari situs tersebut. Tim ini bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief.
Kontroversi merebak setelah Andi merilis ada sejenis piramida di bawah Gunung Padang pada awal tahun lalu. "Apa pun nama dan bentuknya, yang jelas di bawah itu ada ruang-ruang," kata Andi. "Selintas tak seperti gunung, seperti manmade."
Kecurigaannya berawal dari bentuk Gunung Padang yang hampir segitiga sama kaki jika dilihat dari utara. Sebelumnya, Tim juga menemukan bentuk serupa di Gunung Sadahurip di Garut dan Bukit Dago Pakar di Bandung saat meneliti patahan Lembang.
Andi Arief mengatakan pekerjaan timnya di Gunung Padang sudah hampir kelar. Untuk urusan penggalian, dia angkat tangan karena membutuhkan biaya besar.


Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Post

Ramalan

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MOZZA TASK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Free Blogger Template